Senin, 18 Februari 2013

Syeikh Abdul Qadir Jailani


Syeikh Abdul Qadir Jailani adalah seorang Wali Allah yang terkenal, banyak mempunyai keramat. Beliau dilahirkan di Wilayah Tibristan pada tahun 417H. (1078), wafat di Baghdad pada tahun 561 H. (1168 M) Nama lengkapnya Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah Al Husna Al-Jailani.

Ketika masih remaja, tahun 488 H., melanjutkan pelajaran ke Baghdad, memperdalam ilmunya, terutama tentang Tasawuf kepada beberapa guru dan Syeikh. Ia menganut mazhab Hanbali. Ilmunya yang sangat menonjol adalah fiqah, komunikasi dan informasi, tekun mempelajari sastera dan hadis. Pada tahun 528 mengajar dan berfatwa di Baghdad.

Seorang orientalis Inggeris, Mary Gelliot telah menerbitkan riwayat hidupnya. Dan Musa Al-Munaini telah menerbitkan buku yang sama dengan judul "Munaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani".
Thariqat
yang dipimpinnya dinamakan "Thariqat Qadariah". Di antara keramatnya menurut "Jami’u Karamatil Aulia" adalah sebagai berikut:


1. As-Siraj meriwayatkan bahawa pada suatu hari dalam tahun 521 H, Syeikh Abu Hassan bin Tamim bin Ahmad Al-Baghdadi, seorang pedagang, telah menemui Syeikh Hammad Ad-Dabbas, seraya mengatakan bahawa ia telah menyiapkan suatu kafilah untuk membawa barang dagangan ke Syam, seharga 700 dinar.

Syeikh Hammad menegaskan : "Jika mengadakan perjalanan dalam tahun ini, niscaya anda akan mati terbunuh dan barang- barang daganganmu habis dirampok orang."

Syeikh Abu Muzhaffar gusar mendengarnya, Ia pun segera menemui Syeikh Abdul Qadir Jailani, memberitahu halnya. Waktu itu Syeikh Abdul Qadir masih muda remaja.

Abdul Qadir berkata: "Berangkatlah, insya Allah anda dalam keadaan selamat dan pulang nanti akan memperoleh keuntungan."



Abu Muzahaffar pun berangkatlah dan ternyata dagangannya laris dan laku dengan nilai 1000 dinar. Beruntung tiga ratus dinar.

Pada suatu hari Abu Muzhaffar singgah di sebuah tempat pemerahan susu, untuk sesuatu urusan. Dia terlupa, wang yang 1000 dinar itu tertinggal di situ, terletak di atas sebuah rak.

Setelah pulang, ia pun tidur beristirahat dan bermimpi beberapa orang Arab dalam satu kafilah, mengeroyoknya dan menganiayanya dengan lembing. Ketika tersentak, masih terasa sakitnya dan bekas darah jelas kelihatan dilehernya. Waktu itu dia teringat kepada wang 1000 dinar yang tertinggal tadi, lalu dicarinya kembali,. Ternyata wang itu didapatinya dalam keadaan utuh, tiada kurang satu sen pun.

Sesudah peristiwa itu, ia pun pulang ke Baghdad. Dalam perjalanan hatinya berkata "lebih baik berjumpa dahulu dengan Syeikh Hammad, kerana dia lebih tua, sedang Abdul Qadir masih muda walaupun ucapannya benar." la pun lalu menuju ke pekan, untuk menemuinya. Setelah berjumpa, Syeikh Hammad menyuruhnya supaya lebih dulu menemui Abdul Qadir, karena dia adalah orang yang dikasihi Allah dan telah mendoakannya sebanyak 17 kali, sehingga berkat doanya, ia telah diselamatkan Allah dari pembunuhan.

Mendengar petunjuk itu, ia pun pergi menemui Abdul Qadir. Dan setelah bertemu, Abdul Qadir lebih dahulu berkata: "Menurut Syeikh Hammad 17 kali, tetapi sebenarnya aku mendoakanmu 17 kali dan 17 kali, sampai apa yang anda alami itu terjadi."

2. Imam Al-Yafi'i berkata : Diriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir pada suatu hari, meminta barang titipan kepada seorang yang menyimpannya, karena pemiliknya tidak dapat datang mengambilnya. Orang yang menyimpan barang itu menolak, tidak mau menyerahkannya seraya berkata : "Jika sekiranya aku meminta kepadamu dalam perkara seperti ini, tentu anda pun tidak akan mau memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, karena anda bukan pemiliknya."

Tiada lama sesudah ucapan itu, tibalah sepucuk surat pemiliknya ketangannya, menyatakan supaya barang titipan itu diserahkan kepada Syeikh Abdul Qadir, untuk disalurkannya kepada fakir miskin.

Maka barang itu pun diserahkannya kepada Syeikh Abdul Qadir. Beliau mengecamnya sedangkan Allah telah merelakannya.


3. Imam Sya 'rani menyatakan bahwa di antara keramatnya, pada suatu hari is mengambil wudluk. Tiba-tiba seekor burung layang-layang mengencinginya dari atas. Ia pun menoleh ke atas dengan mengangkatkan kepalanya, maka seketika itu juga burung itu terjatuh dan mati. Pakaian yang kena najis itu pun di cucinya kemudian dijualnya dan harganya disedekahkannya.

4
. Setelah namanya makin terkenal ke seluruh dunia, maka pada suatu hari berkumpullah 100 orang alim-ulama dan cerdik pandai di Baghdad, hendak menguji ilmu pengetahuannya. Masing-masing telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan kepadanya. Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Syeikh Abdul Qadir diam menundukkan kepalanya, tiada bercakap sepatah pun. Tiba-tiba memancar cahaya sekilas dari dadanya, menembus ke dada hadirin, sehinggn semua pertanyaan.yang akan diajukan tadi, terhapus hilang lenyap dari dada masing-masing. Suasana majlis itu menjadi kalang-kabut, karena mereka menjerit jerit, sambil mengoyak ngoyak baju dan membuangkan kopiah.

Sesudah itu, beliau pun duduk di atas sebuah kursi, siap untuk menjawab semua pertanyaan. Ternyata tiada satu. pun pertan yaan yang dapat diajukan. Dan setelah menyaksikan kenyataan itu, semua hadirin tunduk mengakui kebesaran dan ketinggian ilmu beliau.


5. Abu Al-Fatah Al-Harawi berkata : "Saya pernah menjadi pelayan Syeikh Abdul Qadir selama 40 tahun. Kulihat dia shalat subuh dengan wuduk isyak. Setiap batal, digantinya dengan wuduk baru, kemudian shalat dua rakaat. Selesai shalat isyak, beliau masuk ke ruangan khalwatnya, tiada seorang pun diperkenankan menemuinya. Dia baru keluar dari situ ketika terbit fajar."6. Kata Al-Harawi lagi : "Pada suatu malam, aku menginap dirumahnya. Pada awal malam; kulihat dia shalat sekejap kemudian berdzikir sampai sepertiga malam pertama, lalu mengucapkan:
"Tuhanlah yang meliputi yang empunya, yang menyaksikan, yang memperhitungkan, yang berbuat, yang amat menciptai, yang mencipta, yang melepaskan, yang menggambarka"
Sesudah mengucapkan kalimat itu, kulihat tubuhnya beransur-ansur kecil kemudian membesar, sesudah itu naik ke udara, sampai lenyap dari pemandanganku.

Pada bahagian kedua dari malam, beliau shalat dan membaca Qur'an sampai pada bahagian ketiga malam. Sujudnya lama sekali, kemudian duduk tafakkur, bertawajjuh menghadap Allah sampai menjelang terbit fajar. Sesudah itu mendoa dengan rendah hati dan tawaduk. Kulihat cahaya mengelilinginya, sampai hilang dari pemandangan.

Kudengar disisinya suara yang mengucapkan: "Salamun 'alaikum, salamun 'alaikum".Dia menjawab salam itu sampai ke luar untuk mengerjakan shalat subuh.


7. Di antara keramatnya, beliau pernah menyatakan bahwa pada suatu hari, ia bertemu dengan Nabi Khidir. Beliau tidak mengenalnya. Nabi Khidir membuat syarat, bahwa beliau tidak boleh menyalahi perintahnya.

Nabi Khidir berkata kepadaku : "Duduk di sini!" Aku pun duduklah di tempat yang ditunjuknya itu selama tiga tahun. Setahun sekali dia datang dan memerintahkan supaya aku tetap duduk di tempat itu sampai dia datang pula pada kali yang lain."

Selanjutnya Syeikh Abdul Qadir menyatakan : "Aku pernah tinggal dicelah-celah puing kota Madain, untuk beribadah dengan sungguh-sungguh. Aku memakan anggur yang diperah dan tidak minum. Kemudian setahun aku minum air tidak memakan anggur. Dan pada tahun berikutnya aku tidak makan dan tidak minum dan tidak tidur.

Pada suatu malam yang amat dingin, aku tertidur dan bermimpi bersetubuh. Aku pun mandi wajib. Kemudian tidur pula dan bermimpi lagi. Aku pun mandi pula. Kemudian tidur dan bermimpi lagi, dan mandi pula. Malam itu aku bermimpi bersetubuh sampai 40 kali dan mandi 40 kali.

Sesudah itu aku pun naik ke satu jenjang istana Kaisar, dengan harapan tidak akan tidur lagi. Aku pun fana, tenggelam dalam 1001 ilmu dan rahasia kebesaran Allah, sampai aku beristirahat dari dunia kamu in
."


8. Ibnu Al-Akhdlar berkata : "Pada suatu hari musim dingin, kami mengunjungi Syeikh Abdul Qadir. Walaupun cuaca amat dingin, beliau hanya memakai sehelai baju dan kopiah. Keringat membahasi seluruh tubuhnya. Beberapa orang mengipas-ngipasnya. Keadaannya seperti berada di musim panas yang amat sangat."


9. Beliau pernah menceritakan halnya, dengan berkata : "Aku pernah mengembara selama 25 tahun ke berbagai negara Selama dalam perjalanan aku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan meminum air sungai. Dan dapat menahan diri tidak minum selama setahun. Allah mengurniaiku kata-kata "kun" (jadilah). Apabila kata "kun" itu ku ucapkan, maka apa yang aku ingini, tercapai. Ku dapati hidangan yang tersedia, maka aku pun memakannya dengan sepuas-puasnya. Dengan "kun" itu, gunung bisa ku belah menjadi kue, lalu ku makan. Pasir bisa menjadi gula, ku taruhkan pasir itu dalam gelas, dan ku tuangkan air laut ke dalamnya, lalu ku minum. Semuanya sudah ku tinggalkan, kerana malu kepada Allah."


10. AI-Manawi berkata : "Di antara keramatnya, ketika masih bayi, tidak mau menyusu kepada ibunya, pada siang Ramadhan. Orang banyak yang ingin mengetahui awal bulan, bertanya kepalanya. Dan seumur hidupnya, lalat tidak pernah menjatuhkan kotoran kepadanya."


11. Pada suatu hari, seorang wanita menyerahkan anaknya kepada beliau untuk dididik, dengan mengatakan : "Aku perhatikan, anakku ini sangat tertarik kepada tuan. Sekarang, dia ku serahkan kepada tuan."

Beliau pun menerimanya dengan segala senang hati, dan mendidiknya dengan sungguh-sungguh mengamalkan thariqat ini. Beberapa waktu kemudian, ibunya datang menjenguk. Dilihatnya badan anaknya kurus-kering, mukanya pucat, akibat kurang makan dan tidur. Ia hanya memakan sepotong roti dari tepung gandum.

la sangat kasihan dan sedih melihat keadaan anaknya, lalu segera menemui Syekh Abdul Qadir. Dilihatnya beliau sedang memakan daging ayam. Lantas ia pun berkata : "Wahai tuan, anda memakan ayam, sedangkan anakku memakan roti?"

Beliau pun meletakkan tangannya ke tulang-tulang ayam itu seraya berkata : "Bangkitlah dengan idzin Allah!" Maka ayam itu pun bangkit, hidup kembali sebagaimana semula.

Sesudah itu, beliau pun berkata : "Nah, apabila anakmu itu sudah bisa berbuat seperti ini, maka dia bolehlah memakan apa saja yang disukainya."


12. Pada suatu hari seekor burung elang terbang di atas majlis Syekh Abdul Qadir. Burung itu berkicau dengan kuatnya, sehingga mengganggu hadirin. Beliau pun berkata: "Wahai angin, ambil kepala burung itu." Maka burung itu pun terjatuh ke tanah, kepalanya terpisah dari tubuhnya, masing-masing tercampak ke satu sudut. Beliau pun turun dari atas kerusinya, mengambil bangkai burung tadi dan mengusap-ngusapnya, dengan mengucapkan "bismillahir rahmanir rahim". Seketika itu juga burung itu hidup kembali.


13. Keramatnya yang lain menurut suatu riwayat, pada suatu hari tiga orang pekerja naik kuda melintasi beliau. Mereka membawa sejumlah minuman keras untuk Raja.

Syeikh Abdul Qadir menyuruh mereka supaya berhenti, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Lantas beliau memerintahkan kepada kuda yang membawa mereka, supaya berhenti. Kuda itu pun berhenti, dan Syeikh Abdul Qadir mengambil minum keras itu dan menahan mereka. Mereka merasa kecut dan cemas. Syeikh Abdul Qadir menyatakan, arak itu sudah menjadi cuka. Maka mereka pun membukanya, ternyata apa yang dikatakan beliau itu, benar dan tepat.


14. Pada suatu hari beberapa orang wanita yang menentangnya, datang mengunjungi Syeikh Abdul Qadir, dengan membawa dua buah peti yang berkunci rapat. Mereka berkata : "Cuba teka apa isi peti ini."

Beliau berkata : "Didalamnya ada seorang bayi sedang duduk."

Ketika peti dibuka, ternyata apa yang dikatakan beliau itu adalah benar. Kemudian wanita-wanita itu menunjuk ke peti yang sebuah lagi, menanyakan apa pula isinya.

Syeikh Abdul Qadir menjawab : "Isinya, seorang bayi yang sehat, tidak terkena penyakit sampar." Ketika di buka, ternyata benar didalamnya seorang bayi yang sehat segar-bugar. Beliau memegang ubun-ubunnya, seraya berkata: "Duduklah." Maka bayi mungil itu pun duduk. Melihat kenyataan ini, maka mereka pun tobat, minta ampun, tidak mau lagi melawannya. Tiga orang di antara hadirin ketika itu mati.


15. Seorang laki-laki dari Baghdad menemuinya seraya berkata "Anak perempuanku telah disambar jin." Syeikh Abdul Qadir menyuruhnya pergi ke suatu tempat, dan supaya melingkari tempat itu dengan tulisan "bismillah 'ala niati Abdul Qadir". Orang itu pun melakukan semua itu. Maka sejumlah jin berdatangan melintasi lingkaran sampai Raja mereka tiba. Raja jin itu tegak di pinggir garis lingkaran tadi, seraya bertanya "Apa keperluanmu?"

Laki-laki itu pun menerangkan tentang anak perempuannya disambar jin tadi. Ketika itu juga Raja jin, menghadapkan si penyambar tadi kehadapannya dengan memukul pundaknya.Orang itu pun berkata kepada Raja jin : "Aku belum pernah melihat kepatuhan orang kepada Syeikh Abdul Qadir, seperti kepatuhanmu ini."

Raja jin itu pun menjawab : "Benar, dia melihat keadaan kami dari rumahnya, walaupun kami tinggal di ujung bumi. Mereka berlarian daripadanya karena kehebatannya."


16. Keramatnya yang lain, pada suatu hari beberapa sahabatnya menghadap beliau. Seorang diantaranya tak bisa buang air kecil. Akibatnya dia gelisah menahannya, sehingga mempengaruhi sikap dan gerak-geriknya. Dia menoleh kepada Syeikh Abdul Qadir, seolah-olah minta tolong. Beliau pun turun dari atas tempat duduknya, berhenti di satu tingkatan. Tiba-tiba muncul di atas kepalanya sebuah kepala manusia, seperti kepalanya. Kemudian turun ke satu tingkat lagi, maka muncul pula sebuah kepala yang sama. Kemudian turun ke tingkat bawah, muncul pula dua pundak dan dada. Setiap turun muncul sesuatu, akhirnya nampaklah duduk di atas kursi itu seorang laki-laki yang menyerupainya. Dia bercakap-cakap seperti percakapan Syeikh Abdul Qadir.

Beliau pun bangkit lalu menutupi wajah laki-laki itu dengan lengan bajunya. Tiba-tiba saja orang itu sudah berada di suatu padang pasir, di situ terdapat sebuah sungai dan ditepinya tumbuh sepohon kayu. Dalam keadaan seperti itu, hilanglah penyakit yang dialaminya. Ia pun mengambil wuduk di sungai tadi kemudian shalat. Tatkala memberi salam, Syeikh Abdul Qadir membuangkan tutup kepalanya. Tiba-tiba saja dia sudah berada kembali di majlis itu, sedangkan beliau duduk di atas kursi seperti semula.

Keramat beliau cukup banyak dan sudah tersiar luas. Beliau wafat pada tahun 561 H.KERAMAT BEBERAPA WALI

Imam Sya fi'i
Nama lengkapnya Abu Abdullah bin Idris As-Syafi'i Al-Muththalibi Al-Quraisyi. Lahir di Ghazza, Palestina pada tahun 150 H., tempat wafat Hasyim nenekanda Rasulullah SAW. Ketika masih anak-anak, ayahnya meninggal dunia. Ia diasuh oleh ibunya. Kehidupannya sangat sulit. Ketika berumur 2 tahun dibawa ke Mekkah dan belajar di sana. Ia rajin belajar dan cerdas. Semua ilmu yang diperolehnya dicatatnya pada tulang-tulang hingga penuh satu ruangan. Umur 7 tahun telah hafal Qur'an, umur 10 tahun hafal kitab hadis 'Al-Muwaththa" karangan Imam Malik, dan umur 15 tahun telah diizinkan memberi fatwa.

Di antara gurunya di Mekkah, Soufyan bin Uyainah dan mufti Muslim bin Khalid Az-Zanji. Umur 20 tahun pindah ke Madinah, memperdalam ilmunya dengan belajar kepada Imam Malik. Kemudian berangkat ke Irak, menemui sahabat-sahabat Abu Hanifah dan mengambil ilmu dari mereka. Mengadakan perjalanan ke Parsi, Irak bahagian Utara dan berbagai negara. Sesudah dua tahun mengembara, menetap di Madinah selama dua tahun, yakni tahun 172-174 H. Dari perjalanan ini, ilmu pengetahuan dan pengalamannya bertambah, terutama mengenai masalah kehidupan dan tabiat manusia.

Pada 195. H, pindah ke Baghdad, mengajar dan mengarang beberapa kitab. Selama dua tahun di situ, banyak orang berpindah mazhab kepadanya. Pendapatnya selama di Baghdad dinamakan dengan "Qaul Qadim" (pendapat lama).

Belakangan pindah ke Mekah dan sesudah dua tahun di situ, pada tahun 198, kembali menetap di Baghdad, kemudian ke Mesir dan memperdalam ilmunya di perguruan tinggi Al-Azhar, Kairo. Pendapat dan fatwanya selama di Mesir dinamakan "Qaul Jadid" (pendapat baru).

Beberapa alim-ulama menuangkan buah pikirannya dalani berbagai kitab pengetahuan. Di antara yang terkenal mengutip ilmunya, adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, Abu Ibrahim Ismail dan Ar-Rabi'. Demikian pula belajar kepadanya Asyhab dan Ibnu Qasim dari sahabat Malik.

Syafi'i adalah scorang imam mujtahid yang banyak diikuti alimulama, Wali yang saleh, seorang suku Quraisy yang amat dalam ilmu pengetahuannya, terutama mengenai hadis.

Dialah yang dimaksud Rasulullah SAW dengan sabdanya:"Dialah orang alim dari suku Quraisy yang ilmunya memenuhi seluruh tingkatan bumi."

Ia pernah melihat Nabi SAW dan beliau memberinya sebuah neraca. Peristiwa ini ditafsirkan orang bahwa mazhabnya adalah paling adil di antara semua mazhab, dan lebih sesuai dengan Sunnah.Syafi'i pernah berkata : "Saya tidak pernah makan kenyang sejak berumur 16 tahun, kerana banyak makan itu akan memberatkan badan, mengeraskan hati, mengurangi kecerdasan, menumpulkan otak, membawa kepada tidur dan melemahkan kemauan untuk beribadah. Saya tidak pernah bersumpah seumur hidup, baik untuk kebenaran maupun tidak."

Ditanya orang beberapa masalah, kadang-kadang beliau diam, tidak berkata sepatah pun. Dan ketika ditanya orang, kenapa diam, Syafi'i menjawab: "Aku diam sampai aku tahu mana yang lebih baik diam atau bercakap." Doanya makbul, dan tidak pernah diketahui orang bahwa ia tidak pernah membuat dosa kecil ataupun besar.

Satu hal yang luar biasa yang tidak dimiliki mujtahid lain, ialah kebijakannya mengambil dalil hukum dan komentarnya tentang qaul jadid.

Beliau wafat pada waktu.Asar, hari Jum'at bulan Rajab 204 H, dan dikebumikan di Qarafah.Beberapa tahun kemudian, orang ingin hendak memindahkan jenazahnya ke Baghdad. Tetapi ketika kuburannya di bongkar, terciumlah bau yang harum dari dalamnya, sehingga pemindahan jenazahnya itu dibatalkan.Diantara keramatnya, beberapa saat lagi akan wafat, banyak sahabatnya yang menjenguk. Kepada sahabatnya itu: Syafi'i berkata: "Anda, wahai Abu Ya'kub, anda akan mati di Mesir, dan anda wahai Ibnu Al Hakam, kembalilah ke mazhab ayahmu dan anda wahai Rabi’, paling bermanfaat dalam menyebar luaskan kitab-kitabku. Bangkitlah wahai Abu Ya’kub."Sesudah itu, ia pun berdiri menyalami seorang demi seorang, kemudian ia pun wafatlah dengan tenangnya.

Wali itu Ada ii.jpg
                               Sumber : Keramat Wali-Wali (H.A Fuad Said)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar